Selasa, 01 Oktober 2013

Sejarah Bank BCA , Barang dan Jasa Bank BCA dan Lokasi Bank BCA

     Sejarah Bank BCA
BCA secara resmi berdiri pada tanggal 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia NV. Banyak hal telah dilalui sejak saat berdirinya itu, dan barangkali yang paling signifikan adalah krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997.
Krisis ini membawa dampak yang luar biasa pada keseluruhan sistem perbankan di Indonesia. Namun, secara khusus, kondisi ini memengaruhi aliran dana tunai di BCA dan bahkan sempat mengancam kelanjutannya. Banyak nasabah menjadi panik lalu beramai-ramai menarik dana mereka. Akibatnya, bank terpaksa meminta bantuan dari pemerintah Indonesia. Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) lalu mengambil alih BCA pada tahun 1998.
Berkat kebijaksanaan bisnis dan pengambilan keputusan yang arif, BCA berhasil pulih kembali dalam tahun yang sama. Di bulan Desember 1998, dana pihak ke tiga telah kembali ke tingkat sebelum krisis. Aset BCA mencapai Rp 67.93 triliun, padahal di bulan Desember 1997 hanya Rp 53.36 triliun. Kepercayaan masyarakat pada BCA telah sepenuhnya pulih, dan BCA diserahkan oleh BPPN ke Bank Indonesia pada tahun 2000.
Selanjutnya, BCA mengambil langkah besar dengan menjadi perusahaan publikPenawaran Saham Perdana berlangsung pada tahun 2000, dengan menjual saham sebesar 22,55% yang berasal dari divestasi BPPN. Setelah Penawaran Saham Perdana itu, BPPN masih menguasai 70,30% dari seluruh saham BCA. Penawaran saham kedua dilaksanakan di bulan Juni dan Juli 2001, dengan BPPN mendivestasikan 10% lagi dari saham miliknya di BCA.
Dalam tahun 2002, BPPN melepas 51% dari sahamnya di BCA melalui tender penempatan privat yang strategis. Farindo Investment, Ltd., yang berbasis di Mauritius, memenangkan tender tersebut. Saat ini, BCA terus memperkokoh tradisi tata kelola perusahaan yang baik, kepatuhan penuh pada regulasi, pengelolaan risiko secara baik dan komitmen pada nasabahnya baik sebagai bank transaksional maupun sebagai lembaga intermediasi finansial
     Barang dan jasa Bank BCA
1.      PAYMENT POINT
Adalah salah satu jasa perbankan bank BCA untuk melayani masyarakat yang akan melakukan pembayaran-pembayaran yang relatif rutin dan nilainya relatif kecil.
Contoh : pembayaran rekening listrik, telepon dan air.
Payment Point disebut juga rekening titipan dan diartikan sebagai rekening bersyarat.
Sifatnya tidak mengikat bank untuk melakukan kewajiban kepada individu atau lembaga tertentu yang memberi amanat.
2.      SAFE DEPOSIT BOX ( SDB )
Adalah jasa yang diberikan oleh Bank BCA untuk penyimpanan barang-barang berharga atau benda-benda berharga.
Contoh : Perhiasan, Surat – surat berharga
·         Keamanan barang-barang berharga tersebut akan terjamin oleh perbankan karena untuk membuka setiap kotak penyimpanan diperlukan dua kunci yaitu:
Ø  Kunci 1 dipegang oleh Bank
Ø  Kunci 2 dipegang oleh penitip barang atau pihak penyewa Untuk membuka kotak penyimpanan tersebut, tidak semua karyawan Bank dapat melakukannya akan tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang telah ditunjuk oleh pihak Bank.
SDB merupakan transaksi jasa perbankan yang memberikan pendapatan bagi Bank dimana besar kecilnya pendapatan tergantung pada lamanya sewa.
DLL                          
S    Sejarah Dan Lokasi Berdiri Bank Bca
NV Perseroan Dagang dan Industri Semarang Limiting Factory yang  berdiri Tanggal 10 Agustus 1955 merupakan cikal bakal berdirinya PT. Bank Central Asia,Tbk. Pada Tahun 1957, perseroan ini  memperluas usahanya dan merubah salah satu anak  perusahaan menjadi NV Bank Central Asia dan resmi beroperasi pada tanggal 21 Februari 1957 dan nama ini yang kemudian menjadi  Bank Central Asia.
BCA terus berkembang menjadi bank swasta besar,  pada tahun 1977 BCA menyandang predikat sebagai bank devisa sesuai SK Bank Indonesia No. 9/110/KEP/DIR/UD. BCA kemudian terus berkembang dan lingkup operasionalnya juga merambah hingga ke luar negeri dengan membuka kantor perwakilan di Singapura dan Hongkong. Pada dekade 1990-an, BCA juga mengembangkan delivery channel alternatifnya berupa jaringan Anjungan Tunai Mandiri  (ATM) yang kemudian diakui menjadi salah satu penentu keberhasilannya dalam memenangkan persaingan di industri perbankan. 
Setelah melewati masa krisis (1977),  sebagaimana perbankan umumnya di Indonesia  pada umumnya memasuki  persaingan yang ketat.  Untuk itu,  orientasi kepada kebutuhan terhadap nasabah (pelanggan) adalah mutlak. Untuk memperthankan nasabah yang telah ada, secara khusus difokuskan kepada nasabah  premium, yang dikenal sebagai Nasabah Prioritas. Nasabah ini mempunyai tabungan besar dan  menjadi segmen pasar tersediri. Sebagai satu segmen,  BCA bagaimanapun harus memposisikan diri, membangun citra dengan  menciptakan kepuasan kepada  mereka agar dapat memberi manfaat  sepanjang masa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar